Hidup Lebih tenang dengan Asuransi.

Asuransi saat ini kalau di lihat dari sisi konsep dasarnya ada dua, yaitu Asuransi Konvensional yang prinsipnya memindahkan resiko, dan Asuransi Syariah yang prinsipnya kebersamaan di dalam menanggung resiko.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asuransi adalah perjanjian antara penanggung dan tertanggung yang mewajibkan tertanggung membayar sejumlah premi untuk memberikan penggantian atas risiko kerugian, kerusakan, kematian, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin terjadi atas peristiwa yang tak terduga.

Dari pengertian itu jelas kalau asuransi lebih dititikberatkan usaha mentransfer risiko ke perusahaan asuransi. Sebagai imbalan atas jasanya itu, maka kita memberikan kompensasi kepada perusahaan asuransi yang disebut premi asuransi.

Saat ini banyak sekali orang-orang di usia produktif (20 – 35 tahun), yang bekerja dengan giat, dengan motivasi untuk mengumpulkan pundi-pundi Asset, baik yang berbentuk uang, Investasi dan Property, dengan harapan akan hidup berkecukupan di saat sudah memiliki Keluarga dan anak. Tapi dalam kehidupan ini ,ada risiko yang bisa saja terjadi, bisa saja yang tadinya produktif, menjadi tidak produktif lagi.

Berikut adalah sejumah resiko yang akan mungkin terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari :

  1. Kecelakaan di rumah dan jalan
  2. Tiba-tiba mengalami masalah kesehatan, yang sebelumnya tidak terdeteksi.
  3. Tidak bisa melanjutkan mencari nafkah, karena alasan kesehatan .
  4. Terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sehingga kehilangan sumber mata pencarian.
  5. Kehilangan harta (karena pencurian, kebakaran, dan lain-lain)
  6. Korban dari penipuan rekan bisnis atau penyalahgunaan kartu kredit
  7. Korban dari Tindakan kekerasan oleh pihak lain dan masih banyak kemungkinan lainnya.

Asuransi memang tidak bisa menghindarkan kita dari risiko yang terjadi, akan tetapi setidaknya dengan memiliki Asuransi, bisa mengurangi beban kita.

Berikut beberapa manfaat Asuransi Jiwa:

  1. Meminimalisasi risiko yang tak terduga. Siapapun tidak bisa mengantisipasi atau menduga terjadinya suatu bencana dalam keluarga Anda. Dengan asuransi, perlindungan bisa didapat sehingga akan terasa meringankan.
  1. Keluarga Anda akan lebih terjamin. Jika terjadi sesuatu pada kepala keluarga/Anda, ada “dana cadangan” yaitu klaim asuransi yang bisa digunakan untuk membantu keluarga.
  2. Banyak hal yang bisa disiapkan. Pendidikan anak, pengeluaran keluarga bulanan, hingga berbagai kebutuhan yang sifatnya rutin, bisa terbantu dengan dana talangan yang sudah disiapkan dari skema asuransi jiwa.
  3. Berbagai fasilitas memudahkan bisa didapatkan melalui asuransi Jiwa apalagi kini asuransi jiwa banyak digabung dengan berbagai perencanaan lain yang bisa membantu saat-saat sulit di masa depan.
  4. Menenteramkan pikiran Anda akan masa mendatang. Bagi yang menjadi kepala keluarga, adanya asuransi jiwa bisa membuat pikiran lebih tenteram karena akan ada dana cadangan bila terjadi sesuatu kelak. Dengan begitu, kerja bisa lebih tenang dan hasil pun lebih maksimal.

 

Investasi dalam Asuransi Jiwa Syariah

Mekanisme investasi dalam Asuransi jiwa syariah jenis unit link, pada intinya tidak jauh berbeda dengan asuransi jiwa konvensional, hanya penempatan fund saja yang lebih selektif. Seperti apa? Cek di sini yuk.

Kadang sering muncul pertanyaan dan kekhawatiran bahwa apakah benar fund pada investasi syariah benar-benar seusai dengan aturah syariah.

Fund pada investasi syariah tentu berbeda dengan fund pada investasi konvensional. Pada investasi syariah, komponsisi dari fund yang ditawarkan harus sesuai dengan aturan syariah, yaitu tidak mengandung:

1.            Maysir atau tidak boleh ada unsur judi

2.            Gharar atau tidak boleh ada unsur ketidakpastian

3.            Tidak boleh mengandung barang-barang yang diharamkan oleh Islam

4.            Riba atau menggandakan keuntungan

5.            Batil atau yang mengandung unsur tidak baik seperti rokok.

Selain kelima unsur tersebut, perushaan yang secara bisnis dapat dikatakan sesuai dengan kaidah syariah harus memiliki porsi pendapatan bunga serta utang tertentu sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh OJK dan Dewan Pengawas Syariah.

Beberapa contoh jenis perusahaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah adalah:

•             Bank (Riba)

•             Perusahaan rokok (Batil)

•             Perusahaan minuman beralkohol & tempat perjudian (Haram)

Sedangkan perusahaan yang secara bisnis berpotensi untuk dikategorikan sesuai dengan syariah antara lain:

•             Pertambangan

•             Konstruksi

•             Perdagangan

•             Barang Konsumsi

•             Jasa

•             Pertanian

Dengan aturan ini, maka fund investasi syariah bisa dipastikan sesuai dengan aturan syariah, dan diawasi penuh oleh OJK dan Dewan Pengawas Syariah.

Jadi tidak perlu khawatir untuk berinvestasi syariah ya.

sumber:

http://jurnal.allianz.co.id/detail-jurnal/Investasi-dalam-Asuransi-Jiwa-Syariah-1476

 

Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional

Pada saat sekarang ini banyak masyarakat yang tertarik akan produk asuransi syariah, dan berdasarkan data yang di dapat dari Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Pada 2015 pertumbuhan aset industri asuransi syariah mencapai 18,58 persen, investasi tumbuh 18,57 persen, dan kontribusi tumbuh 13,01 persen. Pertumbuhan investasi sendiri turun dibading 2014 yang di atas 30 persen. Pertumbuhan kontribusi meningkat dari lima persen saja pada 2014. Sementara klaim di 2015 turun menjadi 11,08 persen dari 2014 yang mencapai 18,81 persen (http://www.aasi.or.id/main/berita/Pangsa-Aset-Asuransi-Syariah-Capai-543-Persen) .

Menurut Dewan Syariah Nasional, asuransi syariah adalah sebuah usaha untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang, di mana hal ini dilakukan melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Dalam asuransi syariah, diberlakukan sebuah sistem, di mana para peserta akan menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim jika ada peserta yang mengalami musibah. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa, di dalam asuransi syariah, peranan dari perusahaan asuransi hanyalah sebatas pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima saja.

Di dalam asuransi syariah, pengawasan dilakukan secara ketat dan dilaksanakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibentuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diberi tugas untuk mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yang mengaturnya. Di setiap lembaga keuangan syariah, wajib ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas sebagai pengawas. DPS ini merupakan perwakilan dari DSN yang bertugas memastikan lembaga tersebut telah menerapkan prinsip syariah secara benar.

DSN inilah yang kemudian bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap segala bentuk operasional yang dijalankan di dalam asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan oleh peserta asuransi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram. Hal ini akan dilihat dari asal dan sumber harta tersebut serta manfaat yang dihasilkan olehnya.

Berbeda halnya dengan asuransi konvensional, di mana asal dari objek yang diasuransikan tidaklah menjadi sebuah masalah, karena yang dilihat oleh perusahaan adalah nilai dan premi yang akan ditetapkan dalam perjanjian asuransi tersebut.

 

Lalu apa yang menjadi perbedaan antara n Asuransi Syariah dan Konvensional ?

Berikut ini adalah perbedaan yang terdapat di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional:

  • Pengelolaan Risiko

Pada dasarnya, dalam asuransi syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana hibah (tabarru). Dengan begitu bisa dikatakan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan di dalam asuransi syariah adalah menggunakan prinsip sharing of risk, di mana resiko dibebankan/dibagi kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.

Sedangkan di dalam asuransi konvensional berlaku sistem transfer of risk, di mana resiko dipindahkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagi penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut.

  • Pengelolaan Dana

Pengelolaan dana yang dilakukan di dalam asuransi syariah bersifat transparan dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.
Di dalam asuransi konvensional, perusahaan asuransi akan menentukan jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri.

  • Sistem Perjanjian


Di dalam asuransi syariah hanya digunakan akad hibah (tabarru) yang didasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal. Sedangkan di dalam asuransi konvensional akad yang dilakukan cenderung sama dengan perjanjian jual beli.

  • Kepemilikan Dana

Sesuai dengan akad yang digunakan, maka di dalam asuransi syariah dana asuransi tersebut adalah milik bersama (semua peserta asuransi), di mana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana saja. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, karena premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan asuransi tersebut, yang mana dalam hal ini perusahaan asuransi akan memiliki kewenangan penuh terhadap pengelolaan dan pengalokasian dana asuransi.

  • Pembagian Keuntungan

Di dalam asuransi syariah, semua keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan terkait dengan dana asuransi, akan dibagikan kepada semua peserta asuransi  tersebut. Namun akan berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, di mana seluruh keuntungan yang didapatkan akan menjadi hak milik perusahaan asuransi tersebut.

  • Kewajiban Zakat

Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat yang jumlahnya akan disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional.

  • Klaim dan Layanan

Di dalam asuransi syariah, peserta bisa memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap di rumah sakit untuk semua anggota keluarga. Di sini diterapkan sistem penggunaan kartu (cashless) dan membayar semua tagihan yang timbul.

Satu polis asuransi digunakan untuk semua anggota keluarga, sehingga premi yang dikenakan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku dalam asuransi konvensional, di mana setiap orang akan memiliki polis sendiri dan premi yang dikenakan tentu akan lebih tinggi.

Asuransi syariah juga memungkinkan kita untuk bisa melakukan double claim, sehingga kita akan tetap mendapatkan klaim yang kita ajukan meskipun kita telah mendapatkannya melalui asuransi kita yang lain.

Instrumen Investasi

Hal ini juga menjadi sebuah perbedaan yang besar dalam asuransi syariah dan konvensional. Di dalam asuransi syariah, investasi tidak bisa dilakukan pada berbagai kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah dan mengandung unsur haram dalam kegiatannya. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah:

  • Perjudian dan permainan yang tergolong ke dalam judi. Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain: perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, dan perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu. Jasa keuangan ribawi, antara lain: bank berbasis bunga, dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan / atau judi (maisir).
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan berbagai barang, seperti: barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

Ketentuan seperti ini tentu saja tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, karena pada dasarnya di dalam asuransi   konvensional perusahaan akan melakukan berbagai macam investasi dalam berbagai instrumen yang ditujukan untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan. Hal ini bisa dilakukan tanpa menggunakan/mempertimbangkan haram atau tidaknya instrumen investasi yang dipilih, karena pada dasarnya di dalam asuransi konvensional dana yang dilekola adalah benar-benar dana milik perusahaan dan bukan milik pemegang polis asuransi, dengan begitu perusahaan memiliki kewenangan penuh dalam penggunaan dana tersebut, termasuk dalam memilih jenis investasi yang akan digunakan.

Sumber :

https://www.cermati.com/artikel/pengertian-asuransi-syariah-dan-perbedaannya-dengan-asuransi-konvensional

 

Bahagia dan sehat di Hari Tua

Di dalam proses kehidupan ini, semua orang akan mengalami yang namanya menjadi Tua, yaitu usinya berkisar antara 60 s/d 80 tahun, bahkan lebih. Dengan semakin baiknya tingkat kehidupan masyarakat saat ini, kemungkinan hidup manusia juga semakin tingi. Menjadi tua itu sebuah kepastian, tetapi mau ‘tua’ seperti apa itu adalah pilihan. Kalau kita lihat di sekeliling kita, banyak kita lihat, mereka yang sudah usia lanjut, masih bekerja keras , untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi di sisi lain kita juga banyak menyaksikan ada sekelompok orang sedang menikmati masa tuanya. Bersantai, bermain bersama cucu atau sekedar menjalankan hobi. Hidup ini adalah pilihan, mana yang menjadi pilihan anda?

Tetap sehat dan sejahtera saat memasuki masa pensiun adalah harapan setiap orang. Sejumlah survei menunjukkan masyarakat/manusia Indonesia tidak baik dalam soal perencanaan hidup. Sering kali kita dengar segala sesuatunya kita serahkan saja pada Yang Diatas. Rezeki sudah ada yang mengatur. Hal tersebut benar dan saya sendiri menyakininya, karena sebagai ummat yang beragama kita harus yakin akan hal tersebut, akan tetapi ,jika kalimat tersebut di atas tidak  disertai dengan ikhtiar yang cermat dan sistematis, maka statement itu tidak punya makna. Tuhan menyuruh umatnya untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sebab Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum yang tidak mau mengubah nasib dirinya sendiri.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan pada saat kita Tua nanti ? selain mempunyai tabungan, memiliki Asuransi Jiwa dan kesehatan, adalah suatu kewajiban, apabila kita menginginkan Masa Tua yang tenang, kenapa ? semakin tinggi usia Manusia, maka semakin rentan akan kena penyakit, karena factor usia dan daya tahan tubuh. Biaya pengobatan saat ini saja sudah mahal, apalagi 10 s/d 15 tahun ke depan. Dengan memiliki Asuransi Jiwa dan kesehatan, di harapkan akan membantu kita , apabila resiko itu datang.

Sekarang semua keputusan ada di tangan Anda, Masa Tua adalah pasti, dan semakin tinggi usia, akan semakin rentan juga kena penyakit. Kalau Anda belum memiliki Asuransi Jiwa dan kesehatan segeralah untuk memilikinya.

Segera Contact Agent Anda, untuk keterangan lebih lanjut:

Telepon/SMS : +628119909798

Email: allisyaasuransiku@gmail.com